28 May 2024

Belajar Dari Musa – Lanjut atau tenggelam?

0

Firaun menang!.. betapa tidak?, Musa sudah tersudut. Laut merah terbentang di depan mata, tidak bisa lagi dihadapi. Kanan- kiri tebing bukit yang tinggi menghalangi pula laju kaum bani israil untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara fir’aun.

Mati lah..

Kali ini Fir’aun menang!.. betapa tidak?, Musa sudah tersudut. Laut merah terbentang di depan mata, tidak bisa lagi dihadapi. Kanan- kiri tebing bukit yang tinggi menghalangi pula laju kaum bani israil untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara fir’aun.

Mati lah.. !!

perasaan berkecamuk, darah mendidih, teriknya hari dan kepanikan luar biasa yang dirasakan oleh kaum bani Israil.

Hujatan demi hujatan sampai pada diri Musa yang telah membawa mereka pada episode tersesat ini.

“Sesungguhnya kita akan mati musa!!”, kita akan terkejar. Wajah muram salah satu penduduk bani Israil menyalahkan Musa seakan meminta pertanggung jawaban.

Apalagi yang harus dilakukan?

Kemudian musa menenangkan kaum bani Israil dengan Janji Allah SWT, bahwa Allah Ta’ala akan memberi petunjuk.

Menunggu?, ya mau apalagi. Mau tau rasanya dalam kondisi tak berdaya sedangkan kematian terasa dekat?.. ini lah kondisi yang dirasakan Musa dan Kaum Bani Israil saat terdesak, tentunya dengan tingkat kepercayaan yang berbeda-beda dari Kaum Bani Israil kepada Musa dan TuhanNya.

Sampai akhirnya penantian itu berakhir Ketika Allah SWT memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke Laut Merah.

..dan terbelah-lah Laut merah memberi jalan Musa dan Kaumnya untuk melintas mempersilahkan melanjutkan perjalanan menuju tanah yang dijanjikan.

Episode ini sedang dirasakan olehku

Dikejar Jamaah yang gagal berangkat. Di tunggu oleh seseorang dikantor yang minta penjelasan, Pikiran melayang meng eksplorasi “cara terbaik” untuk keluar dari urusan ini, Mencari dananya, mencari solusi, tidak perlu semuanya harus selesai. Cukup selesai urusan hari iniii saja- sudah cukup bersyukur.

Kondisinya njelimet, pak Argo  menagih hutang tanah yang kita beli dan sudah kami dp kan, namun belum mampu kami lunasi. Pak Argo adalah perantara penjual tanah yang kami rencakan untuk dibuat rumah para direksi PPA di daerah Ciangsana Bogor. Perjanjiannya memang kita DP- kan dan kemudian dilunasi dalam waktu setahun. Namun cerita berkata lain, sampailah pesan cinta Negara Api menyerang kami. Dua ribuan Jamaah gagal berangkat karena miss management yang dilakukan oleh direktur Operasional kami. Dana yang seharusnya untuk pembayaran tanah – terpakai untuk pemberangkatan Jamaah tertunda, itu pun belum cukup !

Mati lah.. !!

Pak Argo Di maki-maki oleh pemilik tanah yang meradang.. marah dan meminta agar segera dibayar.

Di waktu bersamaan, Bu Ria menagih karena pembayaran keberangkatan November masih kurang Tujuh ratus Juta, dan Jamaah Desember kurang Tiga Milyar, sedangkan Saldo dalam kondisi nol.

Sore ini pak Arman, pemilik dari TIRAS tour – suami ibu Ria,  meminta saya untuk datang mengklarifikasi urusan Jamaah yang di titipkan untuk diberangkatkan, namun dananya belum bisa kami bayar. Sebelumnya kami sudah infokan mengenai ini kepada pak Arman, namun sepertinya ada miss komunikasi antara pak Arman dengan ibu Ria, yang tadinya pak Arman mau membantu, ternyata istrinya tidak setuju dengan kondisi ini.

Mentok, Ngga tau musti ngapain?

“Pak helmy, pokoknya kalau dana belum masuk, visa dan tiket tidak akan saya berikan..! “ ucap bu Ria, masih terngiang di telinga.

“Sudah pernah terjadi dengan jamaah rombongan lain, saya ini tega-tegaan, mau gimanapun ceritanya ngga akan saya berikan..!!” tambah pak Arman menimpali.

“Baik bu Ria, kami sedang terus upayakan, mohon sekiranya bisa di beri keringanan..” sahut saya berupaya bernegosiasi dengan mereka.

..delapan hari lagi menuju Keberangkatan Jamaah November, Dengan beban lain tagihan jamaah bersamaan datang setiap harinya.

.. apakah ini tenggelamku?,.. episode cerita mirip musa – namun gagal sampai ke tanah yang dijanjikan.

Terbayang Jamaah yang sudah di bandara, siap ber talbiyah, namun urung berangkat karena ternyata berkendala keberangkatannya..

*mulut dan hatiku tercekat,  sempat tidak merasakan apa-apa, apa yang harus kulakukan ya Allah.. Sahabat sudah mulai bosan membaca wa ku, banyak yang pura-pura tidak buka, banyak yang menyempatkan menghibur, namun sulit juga bagi mereka untuk membantu.

..bukan hanya itu kawan, beberapa Jamaah pun sudah mengancam, meminta pertanggung jawaban untuk di selesaikan segera. Bukan satu, dua..

banyak..

Terus gimana ini?

Barangkali ini adalah laut merah dan tebing-bukit yang menghalangi saya bisa melanjutkan perjalanan, namun tebing ini terlalu tinggi, lautnya terlalu luas, dan aku tidak sedang memegang tongkat musa di genggamanku, Multiple obstacle – Hambatan beruntun.

.. dan aku bukan Musa, yang mendapat wahyu untuk diberi petunjuk terhadap urusan ini, dengan segala petunjuk dan keajaiban yang di bentangkan didepan wajahnya. Terlalu Jauh bagiku untuk menyandingkan kisah musa yang mendapat Mukjizat, ditunjuk oleh Allah SWT, diberi kemudahan, penuh keta’atan – di banding diriku yang masih jauh dari level Ta’at kepadaNya.

.. Mungkin ini tenggelamku?, dan Fir’aun berhasil menangkapku..?, episode cerita mirip musa — namun gagal sampai ke tanah yang dijanjikan, di laporkan Polisi, ditangkap, di cemooh, dilecehkan, nama baik yang tercemar, padahal tidak pernah ada maksud hati untuk melukai orang lain.

Kepala sakit, Badan lemas, Hati yg sempat ragu, setiap kali firaun hadir dalam cerita hari..Ragu akankah Allah SWT menurunkan tongkat MusaNya padaku?

Apa aku pantas?, Tapi kemana lagi aku meminta?, bagaimana lagi caranya?,  tiada manusia lagi yang terbayang bisa ku mintakan pertolongan. Semuanya berujung pada kekecewaan berikutnya, masalah yang semakin Panjang..

Mungkin Memang seharusnya- bukan Manusia yang sepatutnya ku datangi, mungkin ini hanya Ujian Materi yang sering aku tuturkan dalam kelas-kelas akhirat yang terselip “dunia” dalam hati. Mungkin Allah SWT kepingin aku membersihkan diri, semuanya mungkin .. aku hanya bisa menjalani saja.

Laut Merahnya jelas, tebing tingginya terlihat, Firaun pun dengan cepat mendatangi.

Yaa, firaun dengan seluruh pasukannya.

Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, yang kurasakan hanya pasrah dan ber serah pada Allah SWT. Keajaiban pertamaku adalah rasa Sholatku yang menjadi nikmat, doaku berderai air mata. Sajadah terasa nyaman, mau gimana lagi? ..

Hhhh..

Terimakasih ya Allah, atas rasa gundah ini, mungkin inilah pengabulan doaku, saat AKu bermunajat pada Allah SWT, “Ya Allah, doaku tidak ada rasanya, sholatku tidak khusyu, maka jadikanlah diriku memiliki rasa – dalam doa dan dalam sholatku”..

Dan Allah SWT kabulkan, doa dan sholat sepenuh Rasa..

Cahaya itu Hadir – Walau belum begitu terang.

Esoknya dapat kabar, ada yang mau bantu meminjamkan dana washilah sahabat dari tegal. Baru dapet kabar, ada yg mau bantu aja sudah hati berbunga.. Baru kabar.. Apalagi betul terjadi.. Aku anggap ini sebagai nikmat tongkat kecilku.

Ada secercah harapan dalam perjalanan ke tegal, ada janji yang tersampaikan, namun tidak tahu, apakah benar terjadi.

Dalam perjalanan pulang, saya mampir ke Cirebon ketempat sahabat PPA, uda daan dan uni Ilya. Disinipun saya berikhtiar menyampaikan urusan saya, sambil berpasrah semua pada Allah SWT.

Sampai suatu hari, ternyata tongkat Musa bukan di tegal, namun di Cirebon, tidak di niatkan namun menjadi washilah. Dibantu oleh Uda daan, kami melunasi keberangkatan Jamaah November..

… Allahu Akbar..  hati menangis bahagia ..

tongkat-tongkat kecil mulai bisa ku gunakan untuk membelah laut merah, jadi ingat bahwa tongkat Musa tidak di dapat secara sengaja oleh Musa, Ia hanya menemani dalam perjalanan saat Musa Lelah. Kita tidak pernah tahu lewat jalan mana Pertolongan Allah SWT akan hadir. Bisa jadi bukan berasal dari tujuan ikhtiar yang kita jalani, bisa jadi Allah SWT hadirkan pertolongannya dari perjalanannya itu sendiri.

Menemukan tongkat-tongkat kecil penyelamat dan menjadi washilah penolong diri dari Urusan dunia yang seakan tiada mungkin selesai

Ya, tongkat kecil. Karena masih ada tiga milyar tagihan desember dan enam puluh lima milyar total nilai Jamaah yang harus kami carikan solusinya.

Semoga Allah SWT terus temani kami, menemukan tongkat Musa kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *