Tag Archives: kang Helmy

13
Sep

Berdialog Dengan Masyarakat Adat Cisungsang, Lebak.

Hari kamis, tanggal 12 september kemarin saya berkesempatan bersilaturahmi dengan tokoh adat dan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Dalam kesempatan itu, saya turut menjadi saksi penyampaian komitmen para tokoh adat dalam melestarikan Desa Adat.

Menurut saya, desa adat dengan segenap aspek lokalnya adalah tonggak penting sebagai upaya membangun kabupaten Lebak dari ketertinggalan. Acara yang berlangsung di Pendopo Kasepuhan Cisungsang tersebut, saya mendengarkan pernyataan sikap dan komitmen 22 perwakilan desa dibawah kaolotan (kepemimpinan) adat Cisungsang.

Sedikit berbeda dengan masyarakat Baduy, masyarakat Cisungsang lebih terbuka terhadap perkembangan, seperti baduy menggunakan sistem isolasi yakni masyarakatnyanya (baduy dalam) tidak dapat beralkulturasi dengan masyarakat luar, sedangkan masyarakat cisungsang tidak seperti itu terbukti dengan adanya penerangan listrik, bentuk rumah, bertani sudah menggunakan alat-alat yang modern dan media elektronik sudah ada seperti TV, Radio, Tape Recorder, Telepon dan Satelit. Namun tentu saja tanpa meninggalkan budaya asli leluhurnnya seperti bentuk rumah tradisi yaitu rumah kayu berbentuk panggung dengan alat memasak tungku (hawu) yang di atasnya dilengkapi tempat penyimpanan alat-alat dapur yang disebut Paraseuneu.

Pakaian adat masyarakat Cisungsang adalah Pakaian dengan 2 warna Hitam dan Putih (Hideung sareng Bodas) mengandung arti yaitu hideung yang berasal dari kata hideng yang berarti cerdas, cepat mengerti. Sedangkan bodas artinya putih bersih, suci jadi harus mempunyai hati yang bersih. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian bertani dan berdagang.

IMG_0448

Share Button
28
Agu

Menteri PDT Dapat Gelar Doktor HC dari UIN Sunan Gunung Djati

BANDUNG, KOMPAS.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa (Dr HC) kepada Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, Senin (26/8/2013).

Menurut Rektor UIN Sunan Gunung Djati Deddy Ismatullah, Helmy berhak atas gelar tersebut karena sepak terjangnya selama menjadi menteri memperlihatkan cara pandang berbeda dalam melihat keadaan masyarakat, dan berpijak pada ajaran Islam.

Ia pun dianggap berhasil mendefinisikan karakter kepribadian Nusantara sebagai seorang politisi dan birokrat.

“Beliau adalah sosok orang kreatif, cerdas, dan tahu banyak hal. Dalam menjalankan tugasnya sebagai menteri negara, beliau menaruh perhatian yang cukup besar pada pembentukan karakter bangsa yang bersendi pada pilar-pilar kejujuran, keadilan, dan solidaritas,” kata Deddy di Bandung.

Selain itu, Deddy juga menganggap tanggung jawab sebagai Menteri PDT untuk menjaga harmoni kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang diemban oleh Helmy tidaklah mudah.

Karakter kepribadian Nusantara yang luhur dan agung, kata Deddy, tidak lahir begitu saja. Hal tersebut dikatakannya adalah hasil dari pendidikan Islam yang lahir dan bersenyawa dengan kearifan lokal.

“Situasi inilah yang kemudian memungkinkan lahirnya tokoh-tokoh negarawan, bangsawan, dan para begawan di negeri ini,” kata dia.

Selain itu, dalam orasi ilmiah Helmy yang berjudul Pendidikan Islam sebagai Pembentuk Karakter Kepribadian Nusantara: Peran, Potret dan Tantangan Indonesia Masa Depan, ia mengatakan, Pancasila yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 merupakan terminal akhir dari proses dialog anak-anak bangsa.

Selain itu, terkait karakter kepribadian Nusantara yang dikembangkan, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini menjelaskan bahwa pemikiran yang diberi nama pilar masyarakat ideal (Mabadi Khaira Ummah) tersebut berakar dari produk pendidikan Islam.

“Konsep ini mencakup lima pilar, yaitu pilar kejujuran dan kebenaran, pilar kesetiaan dan komitmen, pilar keadilan, pilar solidaritas, serta pilar kedisipilinan dan konsistensi,” paparnya.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2013/08/26/1131172/Menteri.PDT.Dapat.Gelar.Doktor.HC.dari.UIN.Sunan.Gunung.Djati

Share Button
24
Agu

Ada “benda asing” tertangkap kamera pada fenomena menakjubkan, matahari dikelilingi pelangi

Saat perjalanan dari Bangkalan Madura menuju Probolinggo, persis ketika memasuki tol Surabaya, saya turut menyaksikan fenomena alam yang menakjubkan. Peristiwa matahari dikelilingi pelangi adalah fenomena yang tidak jamak. Kejadian itu terjadi pada hari Rabu, 21 Agustus 2013′ pukul 11″40 siang. Tak seperti biasanya langit ketika itu tambak clear, bersih dan biru. Awalnya saya hanya mengabadikan peristiwa langka ini dengan kamera di ponsel blackberry saya. Namun karena semakin penasaran, saya membuka sunroof mobil yang saya pinjam dri sahabat di Surabaya dan langsung memotretnya dengan kamera SLR Canon 5D mark III. Hasilnya adalah, menakjubkan.. Subhanalloh.. Maha Suci Engkau yang menciptakan seluruh keindahan.. Namun setelah saya teliti di komputer, tampak ada benda asing yang tampak pada beberapa gambar. Saya mengira ini efek cahaya yang memendar di lensa kamera, tapi setelah saya lihat pada beberapa frame yg lain, benda asing itu tampak bergerak berpindah-pindah. Mungkinkah ini yang sering disebut UFO (Unidentified Flying Object)? Wallahu a’lam bishshowab..

20130824-215752.jpg

20130824-220025.jpg Continue reading “Ada “benda asing” tertangkap kamera pada fenomena menakjubkan, matahari dikelilingi pelangi” »

Share Button
5
Agu

HF Melepas Rombongan Mudik Berkah Bersama PKB

20130805-031119.jpg

20130805-031147.jpg

20130805-031218.jpg

Share Button
10
Jul

Sahur.. Sahur..

Obrog-obrog adalah sebutan untuk sekumpulan kelompok yang bertugas membangunkan orang tidur untuk segera menyiapkan makanan Sahur. Sebutan ini lazim digunakan terutama bagi masyarakat di jalur pantura Jawa Barat seperti Cirebon, Indramayu dan daerah lainnya. Biasanya mereka menggunakan tetabuhan seperti bedug, kaleng bekas biskuit, tidak jarang juga menggunakan alat musik keliling lengkap. Di sebagian tempat disertai juga dengan pawai anak-anak kecil yang membawa obor sebagai tanda dari penyambutan bulan suci Ramadan.

Fenomena obrog ini sangat menarik untuk ditelisik, sebagai sebuah seni tradisi yang ada hanya pada bulan Ramadan. Juga pada perubahan media alat musik yang digunakan. Dulu, Obrog menggunakan alat-alat tradisional namun sekarang tidak jarang kita temui menggunkan alat musik modern, semisal gitar, bass dan peralatan pendukung lainnya.

Sebenarnya darimana istilah Obrog berasal? Nama obrog berasal dari bunyi alat musik yang sering dipakai, semacam kendang. Tidak diketahui dengan pasti kapan kesenian ini tercipta. Selama sebulan penuh, rombongan musik obrog berkeliling dari gang ke gang, bahkan dari desa ke desa guna membangunkan warga untuk segera begegas makan sahur. Mereka menyusuri desa-desa dengan memainkan alat-alat musik dan bernyanyi pagi-pagi buta. Biasanya beraksi mulai pukul 2 atau 3 dini hari.

20130710-015636.jpg

Share Button
8
Jul

Menteri Hobi Makan di Pinggir Jalan

INILAH.COM, Jakarta – Tak mesti pejabat negara selalu makan di tempat mewah. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini salah satu pejabat negara yang hobi makan di pinggir jalan.

Kebiasaan makan di pinggir jalan ternyata menjadi hobi menteri paling muda di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini. Ia cukup fasih menyebut tempat-tempat yang memiliki rasa enak. “Lebih maknyus makan di warung pinggiran jalan,” ujar Helmy kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Saat ditanya tempat-tempat favorit yang kerap dikunjungi, Helmy menyebut dengan runtut tempat warung pinggir jalan di berbagai daerah. “Kalau di Jakarta, ada warung Seafood di Bendungan Hilir Jakarta,” sebut Hilmy.

Di daerah lain Helmy juga memiliki tempat favorit. Seperti di Bangkalan Madura, warung Bebek Sinjai menjadi tempat andalannya saat berkunjung ke Pulau Garam. “Kalau di Surabaya, ada bebek Ibu Samsuddin Jalan Dharmawangsa (sebelah UFO) mankyus,” puji Helmy yang memang memiliki hobi wisata kuliner ini.

Continue reading “Menteri Hobi Makan di Pinggir Jalan” »

Share Button
7
Jul

Marhaban Ya Romadlon..

20130707-204633.jpg
Memasuki Ya Romadlon.. Semoga di bulan suci romadlon tahun 2013 ini, bertambah kemuliaan dan keberkahan hidup

Share Button
4
Jul

Lokananta, Awal Dari Sebuah Cerita

Memasuki liburan akhir pekan, tentu banyak rencana yang disusun. Ada yang memilih pergi ke negeri seberang, tapi tak sedikit yang mengisi akhir pekannya dengan berwisata sejarah. Paket perjalanan pergi ke Candi yang sangat terkenal, Borobudur, adalah yang paling banyak diminati. Di antara turis domestik ini tak sedikit pula yang menyempatkan untuk singgah melewati kota budaya, Solo.

Solo terkenal dengan keramahan dan kesantunan masyarakatnya. Mengitari kota Solo adalah pengalaman yang mengasyikkan, kita bisa meliht keraton yang masih berdiri anggun nan berwibawa. Bagi kaum Hawa, biasanya tak menyianyiakan untuk pergi berbelanja ke pasar Klewer. Selain banyak motif dari batik dan bahan pakaian yang khas Solo, harga yang ditawarkan juga reltif lebih murah jika dibanding dengan kota lainnya.

Nah, bagaimana dengan para penggemar LP records alias piringan hitam? Tak lengkap rasanya jika para kolektor PH tidak coba menyempatkan singgah di kota Solo, karena disinilah untuk pertamakali perusahan atau pabrik piringan hitam didirikan di Indonesia, Lokananta.

Lokananta adalah perusahaan rekaman musik (label) pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956 dan berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Sejak berdirinya, Lokananta mempunyai dua tugas besar, yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam dan kemudian cassette audio. Mulai tahun 1958, piringan hitam mulai dicoba untuk dipasarkan kepada umum melalui RRI dan diberi label Lokananta yang kurang lebih berarti “Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh”.

Continue reading “Lokananta, Awal Dari Sebuah Cerita” »

Share Button
Search:
Twitter Update
Statistik Pengunjung
Flag Counter
© Copyright 2012-2017 Catatan Harian Helmy Faishal. All rights reserved. Powered by Rumah Kreasi