Tag Archives: Helmy Faishal

7
Jul

Marhaban Ya Romadlon..

20130707-204633.jpg
Memasuki Ya Romadlon.. Semoga di bulan suci romadlon tahun 2013 ini, bertambah kemuliaan dan keberkahan hidup

Share Button
4
Jul

Lokananta, Awal Dari Sebuah Cerita

Memasuki liburan akhir pekan, tentu banyak rencana yang disusun. Ada yang memilih pergi ke negeri seberang, tapi tak sedikit yang mengisi akhir pekannya dengan berwisata sejarah. Paket perjalanan pergi ke Candi yang sangat terkenal, Borobudur, adalah yang paling banyak diminati. Di antara turis domestik ini tak sedikit pula yang menyempatkan untuk singgah melewati kota budaya, Solo.

Solo terkenal dengan keramahan dan kesantunan masyarakatnya. Mengitari kota Solo adalah pengalaman yang mengasyikkan, kita bisa meliht keraton yang masih berdiri anggun nan berwibawa. Bagi kaum Hawa, biasanya tak menyianyiakan untuk pergi berbelanja ke pasar Klewer. Selain banyak motif dari batik dan bahan pakaian yang khas Solo, harga yang ditawarkan juga reltif lebih murah jika dibanding dengan kota lainnya.

Nah, bagaimana dengan para penggemar LP records alias piringan hitam? Tak lengkap rasanya jika para kolektor PH tidak coba menyempatkan singgah di kota Solo, karena disinilah untuk pertamakali perusahan atau pabrik piringan hitam didirikan di Indonesia, Lokananta.

Lokananta adalah perusahaan rekaman musik (label) pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956 dan berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Sejak berdirinya, Lokananta mempunyai dua tugas besar, yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam dan kemudian cassette audio. Mulai tahun 1958, piringan hitam mulai dicoba untuk dipasarkan kepada umum melalui RRI dan diberi label Lokananta yang kurang lebih berarti “Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh”.

Continue reading “Lokananta, Awal Dari Sebuah Cerita” »

Share Button
6
Jun

Jalan Surabaya Manjakan Para Kolektor

Minggu pagi di jalan Surabaya, tepat di hari libur saya menyempatkan diri hunting barang-barang antik dan langka. Mulai dari radio jadul tahun 1800an, telepon kabel jaman Belanda masih bercokol di Indonesia, tas dan sepatu branded second juga dijual, termasuk favorit saya piringan hitam atau vinyl / long playing [lp]. Tidak jarang saya juga menemui bule-bule atau turis mancanegara yang menikmati barang-barang langka yang dijajakan para penjual. Yang mengherankan, bule-bule tersebut menyukai lagu-lagu Indonesia. Terus terang saya sendiri lebih banyak mengkoleksi lagu-lagu Indonesia yang kisaran harganya Rp.20.000 hingga Rp. 200.000 per keping, tak jarang saya juga sering menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan para penjual, atau minum kopi dan makan bakso bersama.

Pada kesempatan lain, saya terkadang mengajak istri saya yang kebetulan juga penggemar piringan hitam terutama lagu “biarlah sendiri” dari Edi Silitonga. Nah, jika Anda pecinta album-album legendaris, di sinilah tempatnya, dari album tahun 1970 sampai 1990an ada di tempat ini. Tak lupa, ada juga ada alat untuk memutar piringan hitam (Gramophone). Barang yang sering saya beli

Jalan Surabaya terletak ditengah kawasan mewah Menteng, Jakarta Pusat, menjadi tempat pertama ketika kolektor piringan hitam mencari lagu-lagu tempo dulu yang dikemas dalam piringan hitam, seperti lagu milik Benyamin S, The Beatles dan Rhoma Irama masih banyak yang dijual di toko ini.

Bukan itu saja, jalan sepanjang 500 meter ini ramai dengan kios-kios yang menjajakan barang antik, seperti porselen, keramik, patung kayu, wayang, topeng, peralatan makan dari kuningan, cendera mata, senjata tradisional antik, pajangan logam, ornamen-ornamen kuno, lampu antik, sampai alat-alat kapal laut.

Foto ini saya ambil ketika saya sedang Hunting piringan hitam untuk menambah koleksi saya. Nampak mang Ebort dan Husain sedang memamerkan barang dagangannya. Ada juga pak haji yang lebih banyak menjual alat pemutar piringan hitam. Bagi Anda yang ingin berkunjung ke lokasi ini, tidak perlu khawatir karena tempat ini sangat nyaman dan aman karena tempat ini terlindungi oleh pohon-pohon rindang dan memberikan kesejukan sehingga jika Anda ke tempat ini jangan khawatir dengan cuaca.

20130411-121012.jpg

20130411-122702.jpg

20130411-123347.jpg

Share Button
2
Jun

Senja di atas Kota Jakarta

20130602-184835.jpg

Share Button
31
Mei

Menyimak Proklamasi RI di hari Kesaktian Pancasila 1 Juni

Continue reading “Menyimak Proklamasi RI di hari Kesaktian Pancasila 1 Juni” »

Share Button
31
Mei

Ahmad Dhani ajak generasi muda tonton Film Sang Kiai

20130531-002206.jpg

Share Button
30
Mei

“Sang Kiai” Akan Menjadi Film Terbaik Sepanjang Tahun 2013

Tampaknya film nasional yang akan menjadi film terbaik dalam kurun tahun 2013 ini akan direbut oleh film kolosal Sang Kiai. Film karya sutradara Rako Priyanto ini, melibatkan lebih dari 1600 orang pemain, berhasil menguak peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) dalam sejarah penting merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sosok utama Hadratusysyekh Hasyim Asy’ari, secara matang dimainkan, nyaris sempurna, oleh aktor pemain watak Ikranegara. Pengalaman aktingnya yang teruji dalam film Kejar Daku Kau Kutangkap bersama Deddy Mizwar, membuat Ikranegara berhasil main cantik bersama aktris kawakan Christine Hakim, yang berperan sebagai Nyai Kapu. Nobar perdana film Sang Kiai yang dibuka oleh produser Sunil Gupe T Sumtani (RAPI Film) dihadiri langsung Presiden SBY dan tokoh-tokoh NU seperti KH Sholahuddin Wahid, dr. Umar Wahid, KH Said Aqil Siroj, Muhaimin Iskandar ini berlangsung khidmat.

Continue reading ““Sang Kiai” Akan Menjadi Film Terbaik Sepanjang Tahun 2013” »

Share Button
28
Mei

90 Tahun NU; Warisan Sang Kyai

90 Tahun sudah NU lahir dan mengabdi. Catatan sejarah perjuangan dalam kerangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan Negara telah banyak ditorehkan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan tentu, pertama; keberadaan nama-nama besar para pendiri NU. Hanya karena jasa beliau bahkan republik ini bisa berdiri dan bertahan hingga saat ini.

Tepat 90 Tahun lalu menurut hitungan rajabiyah, NU lahir dengan salah satu misi besarnya adalah untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu bisa dilihat dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama. Kisah mengenai semangat nasionalisme ini bermula ketika keresahan batin membayangi diri Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab Hasbullah meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan sebuah organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, Hadratussyaikh tak mungkin mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya. Continue reading “90 Tahun NU; Warisan Sang Kyai” »

Share Button
Search:
Twitter Update
Statistik Pengunjung
Flag Counter
© Copyright 2012-2017 Catatan Harian Helmy Faishal. All rights reserved. Powered by Rumah Kreasi