Author Archives: Kang Helmy Kang Helmy

1
Nov

Air Terjun Blawan, Bondowoso

Bondowoso memiliki banyak pesona yang mengundang pelancong untuk datang berkunjung,  mulai dari kawasan wisata situs Megalithikum, Kawah Ijen yang sudah mendunia dengan Blue Fair-nya hingga bermacam-macam air terjun, air terjun polo agung, air terjun tancak kembar dan air terjun Blawan. Untuk mencapai bondowoso, dari Surabaya perjalanan bisa ditempuh 6-7 jam, pemandangan indah memanjakan mata kita. setelah melewati PLTU Paiton, kita akan melewati tanyakan membelah perbukitan perbatasan antara Probolinggo dan Bondowoso.

Pertengahan oktober kemarin, saya berkesempatan mengujungi Bondowoso. Setelah melihat hasil produksi kelompok petani yang menjadi binaan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), saya menuju Air terjun Blawan yang terletak di desa Kalianyar Kecamatan Sempol, ±52 Km dari pusat Kota Bondowoso, Air terjun ini adalah hilir dari kali pahit rembesan Kawah Ijen yang penuh dengan kadar belerang serta dikelilingi oleh tumbuhan macadamia. Selain air terjun blawan juga terdapat pemandian air panas yang juga termasuk di kawasan air terjun blawan. Ada beberapa fasilitas di sini antara lain: shelter dan penginanpan.

Continue reading “Air Terjun Blawan, Bondowoso” »

Share Button
17
Okt

Pesona Pantai Mawun, Lombok Tengah

Akhir September kemarin saya berkesempatan mengunjungi Pantai Mawun. Pantai yang berlokasi di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah ini berjarak kurang lebih 60 km dari Kota Mataram. Setelah menghadiri acara pengajian di Lombok Tengah, saya menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup mengasyikkan, keramahan warga Lombok menghiasi perjalanan saya, lalu lalang aktifitas warga sekitar juga menambah keramaian suku sasak tersebut.

Untuk menuju pantai ini, jalan yang kita lewati pun cukup bagus. Jalan aspal mulus sepanjang 9 kilometer ini dihiasi hamparan kebun tembakau. Banyak terdapat kebun tembakau dan padang penggembalaan kerbau milik masyarakat setempat. Sesekali bule-bule (Wisatawan Mancanegara) melintasi mobil yang saya tumpangi, kebanyakan mereka menggunakan sepeda motor.

Continue reading “Pesona Pantai Mawun, Lombok Tengah” »

Share Button
20
Sep

Menikmati Kuliner Semarang, Maknyus.

Jika anda berkunjung ke semarang, tak perlu merasa khawatir untuk kehilangan selera makan. Semarang sebagai ibu kota Provinsi jawa tengah menyajikan banyak kuliner yang tentu mengundang selera makan anda. Selain Lunpia jajanan khas semarang, kuliner malam pun patut dicoba, salah satunya Bakmi Jawa Pak Har, terletak di Jalan Pringgading. Bakminya disajikan dengan dua pilihan, ada bakmi goreng dan bakmi godhog (kuah). Karena letaknya di Semarang, cita rasa bakmi ini pun juga menyesuaikan dengan lidah orang Semarang yang lebih suka manis. Bakmi yang dimasak dengan campuran kecap manis yang kental, diberi taburan kekian, suwiran ayam, sawi dan tomat diatasnya.

Selain bakmi sebagai menu andalan, anda juga bisa mencoba Nasi Goreng Ruwet, seperti yang saya pesan saat berkunjung ke semarang pada malam jum’at kemarin (19/9). Sebelum menghadiri pengajian di pesantren Girikusumo, Mranggen Demak, saya menyempatkan diri mencicipinya. Bakmi Jawa pak Har yang buka setiap hari mulai pukul 17.00-23.00 patut anda coba, selain olahannya yang nikmat, harga yang ditawarkan juga terjangkau, mulai dari Rp. 8.000 – Rp.15.000 anda sudah kenyang. Warungnya memang cukup sederhana, namun di warung inilah kita bisa menemukan bakmi Jowo dengan cita rasa khas yang sudah cukup dikenal, baik oleh warga Semarang maupun yang berasal dari luar kota. Selamat mencoba..

Share Button
13
Sep

Berdialog Dengan Masyarakat Adat Cisungsang, Lebak.

Hari kamis, tanggal 12 september kemarin saya berkesempatan bersilaturahmi dengan tokoh adat dan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Dalam kesempatan itu, saya turut menjadi saksi penyampaian komitmen para tokoh adat dalam melestarikan Desa Adat.

Menurut saya, desa adat dengan segenap aspek lokalnya adalah tonggak penting sebagai upaya membangun kabupaten Lebak dari ketertinggalan. Acara yang berlangsung di Pendopo Kasepuhan Cisungsang tersebut, saya mendengarkan pernyataan sikap dan komitmen 22 perwakilan desa dibawah kaolotan (kepemimpinan) adat Cisungsang.

Sedikit berbeda dengan masyarakat Baduy, masyarakat Cisungsang lebih terbuka terhadap perkembangan, seperti baduy menggunakan sistem isolasi yakni masyarakatnyanya (baduy dalam) tidak dapat beralkulturasi dengan masyarakat luar, sedangkan masyarakat cisungsang tidak seperti itu terbukti dengan adanya penerangan listrik, bentuk rumah, bertani sudah menggunakan alat-alat yang modern dan media elektronik sudah ada seperti TV, Radio, Tape Recorder, Telepon dan Satelit. Namun tentu saja tanpa meninggalkan budaya asli leluhurnnya seperti bentuk rumah tradisi yaitu rumah kayu berbentuk panggung dengan alat memasak tungku (hawu) yang di atasnya dilengkapi tempat penyimpanan alat-alat dapur yang disebut Paraseuneu.

Pakaian adat masyarakat Cisungsang adalah Pakaian dengan 2 warna Hitam dan Putih (Hideung sareng Bodas) mengandung arti yaitu hideung yang berasal dari kata hideng yang berarti cerdas, cepat mengerti. Sedangkan bodas artinya putih bersih, suci jadi harus mempunyai hati yang bersih. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian bertani dan berdagang.

IMG_0448

Share Button
28
Agu

Menteri PDT Dapat Gelar Doktor HC dari UIN Sunan Gunung Djati

BANDUNG, KOMPAS.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa (Dr HC) kepada Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, Senin (26/8/2013).

Menurut Rektor UIN Sunan Gunung Djati Deddy Ismatullah, Helmy berhak atas gelar tersebut karena sepak terjangnya selama menjadi menteri memperlihatkan cara pandang berbeda dalam melihat keadaan masyarakat, dan berpijak pada ajaran Islam.

Ia pun dianggap berhasil mendefinisikan karakter kepribadian Nusantara sebagai seorang politisi dan birokrat.

“Beliau adalah sosok orang kreatif, cerdas, dan tahu banyak hal. Dalam menjalankan tugasnya sebagai menteri negara, beliau menaruh perhatian yang cukup besar pada pembentukan karakter bangsa yang bersendi pada pilar-pilar kejujuran, keadilan, dan solidaritas,” kata Deddy di Bandung.

Selain itu, Deddy juga menganggap tanggung jawab sebagai Menteri PDT untuk menjaga harmoni kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang diemban oleh Helmy tidaklah mudah.

Karakter kepribadian Nusantara yang luhur dan agung, kata Deddy, tidak lahir begitu saja. Hal tersebut dikatakannya adalah hasil dari pendidikan Islam yang lahir dan bersenyawa dengan kearifan lokal.

“Situasi inilah yang kemudian memungkinkan lahirnya tokoh-tokoh negarawan, bangsawan, dan para begawan di negeri ini,” kata dia.

Selain itu, dalam orasi ilmiah Helmy yang berjudul Pendidikan Islam sebagai Pembentuk Karakter Kepribadian Nusantara: Peran, Potret dan Tantangan Indonesia Masa Depan, ia mengatakan, Pancasila yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 merupakan terminal akhir dari proses dialog anak-anak bangsa.

Selain itu, terkait karakter kepribadian Nusantara yang dikembangkan, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini menjelaskan bahwa pemikiran yang diberi nama pilar masyarakat ideal (Mabadi Khaira Ummah) tersebut berakar dari produk pendidikan Islam.

“Konsep ini mencakup lima pilar, yaitu pilar kejujuran dan kebenaran, pilar kesetiaan dan komitmen, pilar keadilan, pilar solidaritas, serta pilar kedisipilinan dan konsistensi,” paparnya.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2013/08/26/1131172/Menteri.PDT.Dapat.Gelar.Doktor.HC.dari.UIN.Sunan.Gunung.Djati

Share Button
8
Jul

Menteri Hobi Makan di Pinggir Jalan

INILAH.COM, Jakarta – Tak mesti pejabat negara selalu makan di tempat mewah. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini salah satu pejabat negara yang hobi makan di pinggir jalan.

Kebiasaan makan di pinggir jalan ternyata menjadi hobi menteri paling muda di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini. Ia cukup fasih menyebut tempat-tempat yang memiliki rasa enak. “Lebih maknyus makan di warung pinggiran jalan,” ujar Helmy kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Saat ditanya tempat-tempat favorit yang kerap dikunjungi, Helmy menyebut dengan runtut tempat warung pinggir jalan di berbagai daerah. “Kalau di Jakarta, ada warung Seafood di Bendungan Hilir Jakarta,” sebut Hilmy.

Di daerah lain Helmy juga memiliki tempat favorit. Seperti di Bangkalan Madura, warung Bebek Sinjai menjadi tempat andalannya saat berkunjung ke Pulau Garam. “Kalau di Surabaya, ada bebek Ibu Samsuddin Jalan Dharmawangsa (sebelah UFO) mankyus,” puji Helmy yang memang memiliki hobi wisata kuliner ini.

Continue reading “Menteri Hobi Makan di Pinggir Jalan” »

Share Button
28
Mei

90 Tahun NU; Warisan Sang Kyai

90 Tahun sudah NU lahir dan mengabdi. Catatan sejarah perjuangan dalam kerangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan Negara telah banyak ditorehkan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan tentu, pertama; keberadaan nama-nama besar para pendiri NU. Hanya karena jasa beliau bahkan republik ini bisa berdiri dan bertahan hingga saat ini.

Tepat 90 Tahun lalu menurut hitungan rajabiyah, NU lahir dengan salah satu misi besarnya adalah untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu bisa dilihat dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama. Kisah mengenai semangat nasionalisme ini bermula ketika keresahan batin membayangi diri Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab Hasbullah meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan sebuah organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, Hadratussyaikh tak mungkin mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya. Continue reading “90 Tahun NU; Warisan Sang Kyai” »

Share Button
24
Apr

Ikan Bakar Benhil, harga kaki lima, rasa bintang lima..

Kuliner

Masakan seafood di kawasan Bendungan Hilir ini sudah kondang entah sejak jaman kapan, dan menu favorit saya di pinggiran Jl. Penjernihan 1 ini adalah ikan bakar. Meski terletak di pinggiran dengan tenda yang sederhana, tapi rasa yang ditawarkan mengalahkan menu bintang lima atau restoran dengan harga yang selangit. Warung Cakra Ndut “Benhil Seafood” perlu anda coba. Harga kaki lima, rasa bintang lima. Monggo mampir…

Share Button
Search:
Twitter Update
Statistik Pengunjung
Flag Counter
© Copyright 2012-2017 Catatan Harian Helmy Faishal. All rights reserved. Powered by Rumah Kreasi