28
Mei

90 Tahun NU; Warisan Sang Kyai

90 Tahun sudah NU lahir dan mengabdi. Catatan sejarah perjuangan dalam kerangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan Negara telah banyak ditorehkan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan tentu, pertama; keberadaan nama-nama besar para pendiri NU. Hanya karena jasa beliau bahkan republik ini bisa berdiri dan bertahan hingga saat ini.

Tepat 90 Tahun lalu menurut hitungan rajabiyah, NU lahir dengan salah satu misi besarnya adalah untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu bisa dilihat dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama. Kisah mengenai semangat nasionalisme ini bermula ketika keresahan batin membayangi diri Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab Hasbullah meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan sebuah organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, Hadratussyaikh tak mungkin mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Ide pembentukan organisasi itu muncul berawal dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jam’iyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yang sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Lepas dari sejarah pendirian, masih banyak nilai historisitas NU lainnya dalam mengisi kemerdekaan juga patut dicatat oleh sejarah. Taruhlah soal resolusi jihad yang didengungkan dalam mengusir penjajah. ada beberapa fakta penting terkait sejarah Resolusi Jihad yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertama, bahwa 10 November 1945 adalah hari pertama dimana pertempuran terbesar dan terberat terjadi selama tiga pekan tanpa henti dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Diperkirakan lebih 16 ribu tentara nasional (TKR), milisi, dan warga sipil terbunuh dalam pertempuran kota ini. Inilah kenapa kemudian 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan nasional. Kedua, yang juga menjadi pemicu perlawanan massal rakyat saat itu, adalah ultimatum menyusul terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, yang meminta agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan pada Sekutu.

Dalam ultimatum tersebut diumumkan, bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia harus melapor dan meletakkan senjata di tempat yang telah ditentukan, dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan. Perintah ini berlaku dengan batas akhir terhitung hingga pukul 06.00 pagi tertanggal 10 November 1945. Sementara, bagi para pemimpin dan sebagian besar rakyat Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, ultimatum ini tentu saja dinilai sebagai penghinaan besar. Penolakan mentah-mentah rakyat terhadap ultimatum ini kemudian dijawab Sekutu dengan melakukan serangan berskala besar. Diawali dengan pengeboman udara dengan target gedung-gedung pemerintahan di Surabaya, dilanjutkan dengan serangan darat dan laut dengan mengerahkan sedikitnya 30 ribu infanteri.Tak dapat dihindari, pertempuran sengit pun terjadi di seluruh penjuru kota.

Andil besar tokoh-tokoh NU pada momentum perang dalam kota ini, adalah dalam ikut mengorganisasi dan mengatur strategi pertempuran. Diantara tonggaknya tak lain lewat pencetusan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Pada waktu itu kalangan kiai memang relatif lebih dipatuhi masyarakat daripada pemimpin pemerintahan yang lebih mengedepankan diplomasi melawan Sekutu. Adalah KH Hasyim Asy’ari yang pada 22 Oktober sebelumnya sudah menggelar pertemuan rapi dengan tokoh-tokoh dan kiai-kiai pesantren lainnya, langsung menggelorakan sikap jihad fisabilillah kepada seluruh santri dan rakyat yang sudah mengubah diri menjadi milisi bersenjata. Mereka mengelompok dalam laskar-laskar daerah. Semua dikerahkan masuk kota Surabaya membantu kekuatan TKR, dan milisi lain yang sudah terlebih dulu memberikan perlawanan pada Sekutu. Mereka datang dari berbagai kalangan berbeda seperti pelajar, mahasiswa, dan kalangan pemuda. Sebagaimana fatwa para kiai, satu semangat mereka saat itu adalah hidup merdeka di negeri sendiri, atau mati syahid. Sekutu pada akhirnya memenangkan pertempuran sengit ini dan mengambil alih kota Surabaya. Namun pertempuran serupa terjadi dan menjalar dimana-mana.

Seluruh delegasi NU sejawa & madura pada 22 oktober 1945 telah berkumpul di kantor pusat ansor di jalan pungutan surabaya. Kiyai hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian dilanjutkan oleh kiyai wahab, setelah berdiskusi yg cukup panjang dan mendengarkan hasil istiqoroh para kiyai utama NU, esok siangnya tanggal 22 oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yg kemudian dikenal dg istilah Resolusi Jihad NU.

Isi Resolusi Jihad:

Pertama: Setiap muslim , tua, muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.
Kedua : pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak dianggap syuhada.
Ketiga : warga yang memihak kepada belanda dianggap memecah belah kesatuan dan persatuan dan oleh karena itu harus di hukum mati.

Dokumen resolusi Jihad tersebut ditulis dalam huruf Arab-Jawa atau disebut “Pegon” dan ditandatangi oleh K.H Hasyim Azhari kemudian disebarluaskan keseluruh jaringan pesantren, tak terkecuali kepada komandan-komandan Tentara Nasional Indonesia.

Mencoba memahami kronologi sejarah ini, pertempuran 10 November adalah klimaks dari situasi. Ada beberapa faktor memicunya, termasuk Resolusi Jihad, kematian Mallaby, dan ultimatum Sekutu sebagai puncaknya. Sejak Resolusi Jihad dicetuskan, Hadratussyaikh dan para tokoh NU pesantren terlibat aktif membentuk, mengorganisasi perlawanan bersenjata. Hadiah fatihah untuk Hadratussyaikh dan para pendiri NU, Alfaatihah…

 

Share Button
Search:
Twitter Update
Statistik Pengunjung
Flag Counter
© Copyright 2012-2017 Catatan Harian Helmy Faishal. All rights reserved. Powered by Rumah Kreasi