10
Apr

Kembali ke Khittah Ekonomi Kerakyatan

Kembali ke Khittoh Ekonomi KerakyatanRasanya masih kikuk, untuk mengatakan bahwa saat ini banyak pemimpin kita yang mau memikirkan tentang desa. Kebanyakan pemimpin menganggap desa adalah komponen kedua setelah kota. Desa dianggap kelas nomor dua, tidak begitu penting, akibatnya pembangunan desapun terlupakan.

Salah satu indikator akan hal tersebut adalah sedikitnya buku atau hasil penelitian yang mendesain tentang pembangunan desa. Buku-buku dan penelitian yang ada saat ini, lebih menitikberatkan pada pembangunan dan penelitian tentang masyarakat modern, yaitu kaum kota. Keadaan demikian diperparah dengan adanya kecenderungan para sarjana putera daerah yang lebih merasa nyaman tinggal di kota. Mereka enggan kembali ke desanya.Di tengah kondisi demikian, buku dengan judul Kembali Ke Khittah Ekonomi Kerakyatan ini adalah tulisan refleksi saya sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, tentang strategi membangun desa. Intisari buku ini adalah tentang ide dasar program unggulan Kementerian Pembengunan Daerah Tertinggal, yaitu Bedah Desa. Program Bedah Desa ini terdiri atas berbagai bentuk program, antara lain, program listrik masuk desa, perbaikan infrastruktur berupa jalan poros desa, pasar desa, warung informasi desa atau desa “bordering”  dan pengembangan agribisnis pedesaan.

Selain menawarkan perubahan paradigma dan konsepsi pengembangan infrastruktur desa, buku ini juga menawarkan strategi memanfaatkan “mutiara-Mutiara” atau potensi daerah yang terpendam. Sebagaimana telah banyak kita baca dari media maupun dari berbagai penelitian, bahwa sekian banyak dari daerah tertinggal ternyata mempunyai kekayaan alam dan potensi yang meruah. Namun, potensi dan kekayaan ini justeru tidak bisa menjadikan masyarakat setempat menjadi makmur, bahkan mayarakat kotalah yang menikmati kekayaan alam dan potensi daerah, ini ironis.

Selain itu, dalam buku ini juga saya menawarkan solusi membuka keterisolasian daerah tertinggal agar mempunyai keterkaitan dengan daerah maju dan peningkatan kapasitas, baik kapasitas kelembagaan maupun kapasitas sumberdaya manusia pemerintah dan masyarakat di daerah tertinggal.

Buku ini cocok dibaca oleh para pejabat daerah, lebih-lebih para walikota, sehingga mereka mempunyai cara pandang dan paradigma yang searah dengan Pemerintah Pusat, Khususnya Kementerian Daerah Tertinggal. Kesamaan cara pandang tersebut akan mempercepat proses pengentasan suatu daerah dari ketertinggalan.

Selain para kepala daerah, buku ini juga sangat cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa serta para peneliti yang mempunyai konsentrasi pada otonomi daerah. Selamat membaca.

Share Button
Search:
Twitter Update
Statistik Pengunjung
Flag Counter
© Copyright 2012-2018 Catatan Harian Helmy Faishal. All rights reserved. Powered by Rumah Kreasi